Mitos tentang penyakit Asma

Kita sering mendengar di masyarakat atau membaca di media sosial banyak pendapat atau mitos dari jaman kakek nenek sampai sekarang, atau yang akhir-akhir ini baru berkembang, tentang penyakit asma. Namanya juga mitos, ada yang memang benar secara ilmiah, namun banyak juga yang tidak benar sehingga muncul pemahaman yang salah tentang asma. Mari kita bahas sebagian mitos-mitos tentang asma disertai pembahasan kebenarannya.

1.       Asma adalah penyakit keturunan
Benar bahwa orang tua yang menderita asma seringkali anaknya juga menderita asma. Namun tidak selalu demikian, kadang orang tua menderita asma namun anaknya sehat atau sebaliknya. Bisa juga penyakit tersebut tidak menurun ke anak namun muncul lagi pada cucunya. Bahkan ada pasien yang protes ke dokternya karena dirinya “divonis” asma, padahal dalam keluarga besarnya tak ada seorangpun yang asma.
Asma merupakan salah satu perwujudan penyakit alergi. Sifat alergi yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya, namun perwujudan atau bentuk penyakit alerginya tidak harus sama. Perwujudan alergi bisa bermacam-macam seperti alergi makanan tertentu, kaligata, alergi obat, eksim, pilek (akibat alergi), bila perwujudannya di saluran napas menjadi asma. Bisa jadi ayahnya alergi telur, anaknya alergi obat atau menderita asma.
2.       Asma adalah penyakit menular
Salah. Penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan oleh bibit penyakit (kuman, virus, jamur, parasit) masuk ke dalam tubuh dan dapat ditularkan ke orang lain. Beberapa orang dalam satu rumah kadang sama-sama menderita asma, keadaan tersebut bukan karena penularan tapi karena faktor keturunan. Karena asma bukan penyakit menular maka penderita asma tidak perlu dijauhi apalagi diisolasi.
3.       Faktor pemicu asma sama pada semua orang
Salah. Sesama penderita asma boleh saling berbagi pengalaman kecuali yang satu ini: faktor pemicu. Faktor pemicu setiap penderita asma bersifat unik, kebetulan sama dengan penderita lain bisa saja. Jadi, apa yang dipantang atau dihindari oleh seorang penderita asma dan berhasil, jangan langsung diikuti oleh penderita asma lain, karena belum tentu sama.
4.       Pergi ke pantai akan menyembuhkan asma
Salah. Tinggal di pantai yang udaranya bersih memang bisa membuat penderita asma terkontrol gejalanya sehingga kelihatan sembuh, dengan syarat di pantai tersebut tidak ada faktor pemicu pasien asma. Jadi tidak harus ke pantai, ke tempat lain yang tidak ada pemicu asma bagi orang tersebut akan membantu membebaskannya dari gejala asma.
5.       Berjemur matahari pagi akan menyembuhkan asma
Salah. Penderita asma yang sesak pada malam hari lalu esok pagi dijemur, pada sebagian penderita keluhan sesaknya berkurang atau hilang. Sesak yang berkurang atau hilang tersebut bukan akibat efek sinar matahari pagi, tapi karena irama harian (sirkadian) dalam tubuh seseorang. Pada malam hari saluran napas relatif lebih sempit dan mencapai puncaknya pada dinihari sehingga keluhan sesak akan muncul atau menjadi makin berat, kemudian pada pagi hari saluran napas perlahan-lahan melebar kembali sehingga keluhan sesak berkurang atau hilang.
6.       Berenang bisa menyembuhkan asma
Salah. Berenang merupakan salah satu olahraga yang dianjurkan bagi penderita asma, namun tidak berarti asmanya akan sembuh dengan berenang. Renang dan olahraga lain yang dapat meningkatkan kebugaran tubuh akan sangat bermanfaat bagi pernapasan penderita asma. Salah satu olahraga yang dianjurakan dengan Senam Asma Indonesia.
7.       Asma tidak dapat disembuhkan
Benar, bila yang dimaksud sifat alerginya akan terus menetap. Salah, bila yang dimaksud tidak dapat sehat dan beraktivitas normal. Penderita asma yang terkontrol dapat hidup dan beraktivitas seperti orang normal lain dalam waktu lama. Bahkan beberapa atlet ada yang menderita asma. Namun bila suatu saat terpajan dengan pencetus, dan saat itu kondisi asmanya sedang tidak terkontrol, maka dapat saja terjadi serangan asma lagi.
8.       Obat hirup lebih berbahaya dibanding obat minum
Salah. Obat hirup atau semprot memang melegakan napas lebih cepat dibandingkan obat minum, namun kecepatan efek obat tersebut bukan karena obatnya lebih kuat atau dosisnya lebih tinggi, tetapi karena obat hirup masuk melalui saluran napas dan langsung bekerja sedang obat minum harus melalui jalur yang lebih panjang (lambung, usus, hati, jantung, pembuluh darah) baru menuju ke saluran napas. Kalau melihat dosisnya, obat hirup memang jauh lebih besar angkanya dibanding obat minum, namun kalau diperhatikan lebih teliti ternyata satuannya berbeda, obat minum satuannya mg (miligram) sedang obat hirup µg (microgram). Jadi, obat hirup jauh lebih rendah dosisnya.
9.       Obat hirup hanya untuk asma berat
Salah. Ada obat hirup yang ditujukan untuk meredakan serangan (obat pelonggar napas) dan ada yang digunakan untuk pengendali (obat pengontrol). Penderita asma yang belum terkontrol memang perlu menghirup obat pengendali secara rutin sampai asmanya terkontrol, sedang penderita asma yang hanya sekali-sekali ada serangan ringan dapat menggunakan obat hirup seperlunya saja.
10.   Obat hirup bila dipakai rutin akan ketergantungan
Salah. Obat asma hirup atau semprot tidak berisi obat yang menyebabkan ketergantungan. Setelah konsumsi obat pengendali/pengontrol beberapa minggu, keluhan sesak, batuk atau mengi biasanya berkurang atau hilang. Meskipun keluhan sudah berkurang atau hilang, obat harus terus dikonsumsi selama minimal 3 bulan dan selanjutnya dosis diturunkan secara bertahap sehingga asma terkontrol benar-benar tercapai. Orang sekitar penderita asma menilai wajar bila ada keluhan sesak dan penderita mengkonsumsi obat rutin, namun akan mengira penderita ketergantungan pada saat tidak ada keluhan tapi obat hirup tetap dikonsumsi, padahal tujuannya adalah untuk mencapai asma terkontrol (perlu waktu lebih lama).
11.   Seorang asma tidak boleh olahraga berat
Salah. Banyak penderita asma yang  tidak mau atau tidak berani melakukan aktivitas fisik sedang atau berat, pasrah dengan kondisinya. Biasanya terjadi pada penderita asma yang belum terkontrol. Apabila mereka menjalani pengobatan dengan obat hirup pengontrol (pengendali) pendapat mereka tentu akan berubah. Kita kenal beberapa atlit (renang, lari, basket, dll) bisa berprestasi di tingkat dunia meskipun mereka menyandang asma, namun TERKONTROL.
Bila pemicu serangan asmanya oleh aktivitas fisik, sering disebut exercise induced asthma / EIA, maka setiap berolahraga harus diawali dengan pemanasan dan diakhiri dengan pendinginan yang cukup. Bila perlu gunakan obat pelonggar napas sebelum berolahraga.
12.   Steroid dalam obat hirup menyebabkan tulang keropos, sakit mag dan diabetes
Salah. Steroid bentuk tablet atau suntik bila diberikan dalam waktu lama memang akan memberikan efek pada tulang, lambung dan bisa meningkatkan kadar gula darah. Dosis steroid hirup yang digunakan untuk pengendali asma sangat kecil sehingga efeknya tidak seperti steroid yang diberikan melalui obat minum maupun suntikan. Karena obatnya dihirup maka sebagian besar obat bekerja pada saluran napas, sebagian lain menyebar keluar paru dengan cara menembus mukosa mulut atau tertelan namun dosisnya sangat kecil. Penggunaan steroid hirup jangka panjang sudah terbukti aman dan tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya.
Sudah jelas sekarang, ada beberapa mitos yang memang benar, namun banyak mitos yang ternyata salah. Mulai sekarang pandangan yang salah tentang asma harus diubah sehingga penanganan asma bisa lebih baik dan semakin banyak penderita asma (ada keluhan) yang berubah menjadi penyandang asma (tanpa keluhan) dan menjalani hidup lebih baik seperti orang lain.
  • Penulis: Dr. Ahmad Subagio, Sp.P

Artikel Paru dan pernapasan lain:

Facebook Twitter Linkedin Tumblr Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Kategori

Tweet-ku