Batuk, penyebab, mekanisme, dan tatalaksananya

Batuk sering terjadi dalam keseharian kita. Batuk merupakan upaya pertahanan paru terhadap berbagai rangsangan yang ada. Salah satu upaya pertahananan tubuh yang mampu membersihkan sekret/lendir berlebihan dan benda asing dari saluran napas dan melindungi paru dari trauma mekanis, kimia, dan suhu. Batuk merupakan refleks normal untuk membersihkan saluran napas dari sekret dan benda asing. Meskipun batuk adalah refleks normal, tetapi jika berlebihan dan berlangsung lama akan menganggu, menimbulkan rasa tidak nyaman sehingga akan mencari pertolongan medis. Penurunan atau hilangnya mekanisme batuk dapat berbahaya dan bahkan berakibat fatal. Batuk adalah salah satu keluhan yang sering dikeluhkan pasien di rawat jalan maupun rawat inap. Banyak faktor dari dalam dan luar yang dapat menyebabkan batuk. Batuk juga bisa menjadi tanda atau gejala pertama dari penyakit saluran napas yang bermanfaat baik bagi pasien maupun dokter.

Batuk didefinisikan suatu manuver ekspulsif paksa, biasanya dengan glotis tertutup dan berhubungan dengan suara yang khas. Berdasarkan durasinya batuk dibagi menjadi 3 kategori yaitu akut (< 3 minggu), subakut (3-8 minggu) dan kronik (> 8 minggu), sedangkan berdasarkan produksinya batuk dibedakan menjadi batuk produktif (berdahak) dan batuk non produktif (tidak berdahak). Penelitian menyatakan bahwa batuk kronik berhubungan dengan kebiasaan merokok. Merokok ½ bungkus tiap hari itu ada batuk 25%, jika merokok 1 bungkus naik menjadi 50%. Bagaimana dengan perokok berat? Dengan merokok 2 bungkus tiap harinya akan batuk (+) > 75%.

Mekanisme batuk

European Respiratory Society mendefinisikan batuk sebagai mekanisme motorik yang bersifat ekspulsif dan terdiri dari tiga fase yaitu diawali oleh usaha inspirasi dalam (fase inspirasi), diikuti oleh usaha ekspirasi paksa yang kuat pada glotis tertutup (fase kompresi) yang akan terbuka dengan aliran udara ekspirasi cepat (fase ekspulsi). Mekanisme batuk dibagi menjadi tiga fase:

1. Fase inspirasi

Fase inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah besar udara, pada saat ini glotis secara refleks sudah terbuka lebar akibat kontraksi otot abduktor kartilago artenoidea. Inspirasi terjadi secara dalam dan cepat, sehingga udara dengan cepat dan dalam jumlah banyak masuk ke dalam paru. Volume udara yang diinspirasi sangat bervariasi jumlahnya, berkisar antara 200 sampai 3500 ml di atas kapasitas residu fungsional. Penelitian lain menyebutkan jumlah udara yang dihisap berkisar antara 50% dari volume tidal sampai 50% dari kapasitas vital. Hal ini disertai terfiksirnya iga bawah akibat kontraksi otot toraks, perut dan diafragma, sehingga dimensi lateral dada membesar mengakibatkan peningkatan volume paru. Masuknya udara ke dalam paru dengan jumlah banyak  memberikan keuntunganAda dua manfaat utama dihisapnya sejumlah besar volume ini. Pertama, volume yang besar akan memperkuat fase ekspirasi nantinya dan dapat menghasilkan ekspirasi yang lebih cepat dan lebih kuat. Manfaat kedua, volume yang besar akan memperkecil rongga udara yang tertutup sehingga pengeluaran sekret akan lebih mudah.

2. Fase kompresi

Fase ini dimulai dengan tertutupnya glotis akibat kontraksi otot adduktor kartilago artenoidea; glotis tertutup selama 0,2 detik. Pada fase ini tekanan di paru dan abdomen akan meningkat sampai 50 – 100 mmHg dan tekanan intratoraks meninggi sampai 300 cm H20 agar terjadi batuk yang efektif. Tekanan pleura tetap meninggi selama 0,5 detik setelah glotis terbuka. Tertutupnya glotis merupakan ciri khas batuk, yang membedakannya dengan manuver ekspirasi paksa lain karena akan menghasilkan tenaga yang berbeda. Batuk dapat terjadi tanpa penutupan glotis karena otot-otot ekspirasi mampu meningkatkan tekanan intratoraks, walaupun glotis tetap terbuka.

3. Fase ekspirasi

Kemudian, secara aktif glotis akan terbuka dan berlangsunglah fase ekspirasi. Pada fase ini glotis terbuka secara tiba-tiba akibat kontraksi aktif otot ekspirasi, sehingga terjadilah pengeluaran udara dalam jumlah besar dengan kecepatan yang tinggi disertai dengan pengeluaran benda-benda asing dan bahan-bahan lain. Udara akan keluar dan menggetarkan jaringan saluran napas serta udara yang ada sehingga menimbulkan suara batuk yang kita kenal. Gerakan glotis, otot-otot pernapasan dan cabang-cabang bronkus merupakan hal yang penting dalam fase mekanisme batuk clan di sinilah terjadi fase batuk yang sebenarnya. Suara batuk sangat bervariasi akibat getaran sekret yang ada dalam saluran napas atau getaran pita suara. Arus udara ekspirasi yang maksimal akan tercapai dalam waktu 30–50 detik setelah glotis terbuka, yang kemudian diikuti dengan arus yang menetap. Kecepatan udara yang dihasilkan dapat mencapai 16.000 sampai 24.000 cm per menit, dan pada fase ini dapat dijumpai pengurangan diameter trakea sampai 80%.

Penyebab Batuk

 

Batuk dapat disebabkan oleh bermacam-macam penyakit atau proses yang merangsang reseptor batuk. Keadaan psikogenik tertentu dapat menyebabkan batuk. Tabel di bawah akan memperlihatkan beberapa penyebab batuk dengan berbagai contohnya. Tentunya diperlukan pemeriksaan yang seksama untuk mendeteksi keadaan-keadaan tersebut. Dalam hal ini perlu dilakukan anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik, dan mungkin juga pemeriksaan lain seperti laboratorium darah dan sputum, foto toraks, tes fungsi paru (spirometri) dan lain-lain.

Tabel. Penyebab batuk

Di Paru
Inhalasi bahan iritan Asap rokok, gas toksik, uap kimia, debu, bends asing
Infeksi akut saluran napas bawah Trakeobronkitis, pneumonia, bronkitis akut
Infeksi kronik saluran napas bawah bronkitis,bronkiektasis,tuberkulosis atau mikosis paru
Infeksi parenkim paru fibrosis interstitial, rokok
Neoplasma Jinak atau ganas, primer atau metastasis
Alergi Asma, reaksi alergi sistemik
Benda asing benda asing di saluran napas bawah
Lain-lain Emboli paru, gagal jantung kongestif, retensi sputum, penekanan jalan napas (misalnya adenopati, pembesaranjantung, aneurisma, kista esofagus atau tumor)
Di luar Paru
Saluran napas alas Rinitis, sinusitis, pharingitis, laringitis, trakeitis, kelainan pita suara, elongasi uvula, post nasal drip
Rongga dada Inflamasi atau iritasi pleura, diafragma atau perikard
Lain-lain Distensi lambung, kelainan saluran telinga luar atau membran timpani
Sentral
Psikogen

Komplikasi Batuk

Batuk penting dalam pertahanan paru dan pembersihan saluran napas tetapi dapat menjadi gejala yang mengganggu, jika batuk kering dan berlangsung terus. Kadang-kadang batuk dapat berbahaya dan menimbulkan komplikasi. Komplikasi yang dapat timbul meliputi organ paru, otot rangka, kardiovaskuler dan organ lain. Komplikasi pada paru berupa pneumotraks, pneumomediastinum, trauma saluran napas, trauma laring, emfisema, refleks bronkokontriksi. Pada otot rangka dapat berupa regangan atau robekan otot atau tulang rawan, dan patah iga. Kardiovaskuler pun dapat terjadi komplikasi berupa bradikardi sementra, AV blok sementara, robeknya vena seperti pada subkonjungtiva, vena di hidung atau anus. Komplikasi lain yang dapat terjadi pada ssp berupa sinkop batuk, selain itu dapat juga terjadi hernia, prolapse vagina, inkontinensia urin, luka insomnia, muntah bahkan sakit kepala. Batuk yang tidak efektif juga dapat menimbulkan retensi sputum, sumbatan jalan napas, atelektasis, infeksi serta gagal napas.

Penatalaksanaan Batuk

Penatalaksanaan batuk yang paling baik ialah pemberian obat spesifik terhadap etiologinya. Tiga bentuk penatalaksanaan batuk adalah

1. Tanpa pemberian obat. Penderita-penderita dengan batuk tanpa gangguan yang disebabkan oleh penyakit akut dan sembuh sendiri biasanya tidak perlu obat. Terkadang dengan pemberian minum air hangat telah dapat mengurangi batuk.

2. Pengobatan spesifik. Pengobatan ini diberikan terhadap penyebab timbulnya batuk.

3. Pengobatan simptomatik. Diberikan baik kepada penderita yang tidak dapat ditentukan penyebab batuknya maupun kepada penderita yang batuknya merupakan gangguan, tidak berfungsi baik dan potensial dapat menimbulkan komplikasi.

 Pengobatan Spesifik

Apabila penyebab batuk diketahui maka pengobatan harus ditujukan terhadap penyebab tersebut. Dengan evaluasi diagnostic yang terpadu, pada hampir semua penderita dapat diketahui penyebab batuk kroniknya. Pengobatan spesifik batuk tergantung dari etiologi atau mekanismenya. Asma diobati dengan bronkodilator atau dengan kortikosteroid. Postnasal drip karena sinusitis diobati dengan antibiotik, obat semprot hidung dan kombinasi antihistamin. dekongestan; postnasal drip karena alergi atau rhinitis nonalergi ditanggulangi dengan menghindari lingkungan yang mempunyai faktor pencetus dan kombinasi antihistamin – dekongestan. Refluks gastroesophageal diatasi dengan meninggikan kepala, modifikasi diet, antasid dan simetidin. Batuk pada bronchitis kronik diobati dengan menghentikan merokok. Antibiotik diberikan pada pneumonia, sarkoidosis diobati dengan kortikosteroid dan batuk pada gagal jantung kongestif dengan digoksin dan furosemid. Pengobatan spesifik juga dapat berupa tindakan bedah seperti reseksi paru pada kanker paru, polipektomi, menghilangkan rambut dari saluran telinga luar.

 Pengobatan Simptomatik

Pengobatan simptomatik diberikan apabila :

1. Penyebab batuk yang pasti tidak diketahui, sehingga pengobatan spesifik dan definitif tidak dapat diberikan, dan/atau

2. Batuk tidak berfungsi baik dan komplikasinya membahayakan pasien. Obat yang digunakan untuk pengobatan simptomatik ada tiga jenis menurut kategori farmakologik, yaitu antitusif, ekspektorans dan mukolitik. Antitusif berefek langsung pada pusat batuk, obat ini berfungsi menekan refleks batuk. Karenanya jangan diberikan pada pasien dengan dahak produktif atau berdahak tetapi sulit untuk dikeluarkan. Ekspektoran dapat merangsang pengeluaran dahak dari saluran napas (ekspektorasi). Mukolitik merupakan Obat yang dapat mengencerkan secket saluran napas dengan jalan memecah benang-benang mukoprotein dan mukopolisakarida dari sputum.

Pengobatan mana yang terbaik sebaiknya ditentukan oleh dokter berdasakan anamnesis rinci, gejala yang ada dan pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan.

 

Sumber:

  • Rasyim M, Andriani R. Batuk : Simptom gangguan mayor saluran pernapasan bawah dan paru. In: Bernida I, Sugiman T, Widodo D, editors. Batuk. 1th edition. Jakarta : Badan penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ; 2013. p. 1-16
  • Chung KF, Widdicombe JG. Cough. In: Mason RJ, Murray JF, Broaddus VC, Nadel JA, editors. Mason: Murray & Nadel’s textbook of respiratory medicine. 5th edition. Philadelphia: Saunders elsevier; 2010. p.152-62.
  • Morice AH, Fontana GA, Belvisi MG, Birring SS, Cheung KF, Dicpinigaitis PV, et al. ERS Guideline on the Assessment of Cough. ERS Respir J. 2007;29:1256-76.
  • Soepandi PZ. Patofisiologi batuk dan oksidan-antioksidan. CDK. 1993;84:8-12.
  • Yunus F. Penatalaksanaan batuk dalam praktek sehari-hari. CDK. 1993;84:13-18.
  • Aditama TY. Patofisiologi batuk. CDK. 1993;84:5-7.

Artikel Paru dan pernapasan lain:

Facebook Twitter Linkedin Tumblr Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Kategori

Tweet-ku